-

Bokong pada tante tersayang

cerita seks bokong padat cerita seks dewasa-Dengan baju kerjanya tante Juliet terlihat sangat cantik dan seksi. Apabila ia sedang melepas blezernya, buah dadanya tampak padat, ukurannya sedang-sedang saja. Karena ia selalu memakai rok span mini, maka pantatnya terlihat padat dan kencang, karena tercetak dengan sangat jelas di rok spannya yang ketat. Sering kali ketika aku main ke kantornya. Pada waktu itu aku sedang duduk di sofa dan sedang membaca majalah. Aku tidak sengaja melirik ke arah betis tante Juliet yang sangat mulus dan indah, tante Juliet juga selalu memakai sepatu hak tinggi warna hitam yang seksi, sehingga menambah keindahan kaki dan betisnya.

Pernah suatu kali ketika aku sedang melirik betis indahnya tante Juliet, tanpa kusadari ia mengetahuinya dan melihat ke arahku. Begitu aku tiba-tiba sadar dan melihat ke arahnya, aku malu sekali, jantungku berdegup kencang. Namun tante Juliet justru tersenyum kepadaku, yang malah membuatku makin jadi salah tingkah. Tante Juliet memang orangnya ramah dan baik hati, bahkan ia terkadang memberiku hadiah-hadiah kecil seperti mobil. Namun tetap saja apabila aku sedang diajak bicara olehnya, jantung ini berdebar-debar, entah kenapa. Peristiwa yang sangat dahsyat bermula pada saat aku mampir lagi di kantornya. Hari itu sekitar jam 10 pagi, dan aku sedang duduk-duduk sambil baca majalah, namun tiba-tiba tante Juliet datang dengan pakaian kerjanya yang sexy seperti biasa.

“Eh, tante..?”, sapaku.
“Son.. kamu lagi ngapain..”tanyanya.
“Lagi baca majalah tante..”jawabku.
“Majalah apa ayo.. jangan-jangan kamu baca majalah porno ya?”tanyanya penasaran.
“Kalau ya.. emang kenapa tante.. nggak boleh ya..”jawabku.
“Nggak pa-pa koq.. itu berarti keponakan tante udah gede.. ya khan..”katanya.
“Ya.. tante punya Sony udah gede lo.. kepalanya lucu kayak ‘Helm NAZI’..”kataku mancing.
“Apanya yang gede.. anak manis.. tante nggak ngerti..”tanyanya lagi.
“Ini tante burung Sony.. udah gede lo..”kataku sambil nunjuk ke arah selangkanganku.
“Ahh.. kamu nakal ya.. entar tante bilangin ama om kamu.. baru nyaho’ kamu..”katanya.
Lalu, tante Juliet kembali bekerja.

Di dalam ruang kerja kantor, tante Juliet bekerja menggunakan komputernya, sedangkan aku sendiri bosan baca majalah lalu bermain game dengan komputerku, tepat di sebelah meja tante Juliet. Saat itu kulihat tante Juliet sedang sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kesempatan ini kugunakan sebaik-baiknya. Aku menikmati kecantikan tanteku sepuasku. Keperhatikan wajah tante Juliet yang begitu cantik, lalu buah dadanya yang padat. Karena tante Juliet menggunakan rok span yang mini, maka ketika ia duduk dengan menumpangkan kakinya, pahanya yang putih mulus itu langsung terlihat, juga betisnya yang indah, kutatap habis-habisan.

Namun tiba-tiba tante Juliet menatapku sambil tersenyum menggoda,” Lagi ngeliatin apa kamu, Sony..?”katanya.
Dag.. dig.. dug.. derr! Astaga.., aku benar-benar kaget, jantungku serasa copot, aku sangat panik, dan..
“Eh.., anu.., ehm.., nggak kok tante..”, jawabku terbata-bata.
“Kamu nggak usah bohong sayang.. Nggak apa-apa kok, kalau kamu suka ama tante..”, katanya sambil tersenyum nakal.
Namun tante Juliet malah berdiri ke arah pintu dan menguncinya, lalu menghampiriku dan berdiri
tepat di depanku, bau harum parfumnya terasa olehku. Tentu saja aku jadi makin berdebar-debar nggak karuan.
Lalu..
“Son.., menurut Sony, tante cantik dan sexy nggak sih..?”, tanyanya menggoda.
“Eh.. engg.. iya.. tante cantik dan sexy.. malah jauh lebih cantik dari Tamara Maen Sky” jawabku becanda sambil menunduk.
“Ahh.. yang bener Son.. ee.. kalau begitu Sony mau dong kalau tante Juliet minta tolong?” katanya sambil mengecup pipiku.
Wow.. Perasaanku saat itu benar-benar campur-aduk, aku merasakan kelembutan bibirnya, namun bercampur dengan grogi dan bingung. Aku hanya bisa mengangguk saja. Lalu, tante Juliet memegang tanganku dan menariknya dengan lembut, sehingga aku bangun dari dudukku.
“Son.., ayo sini ikut tante.., tante mau ajarin Sony sesuatu..”, katanya sambil menuntunku berjalan ke arah meja kerja yang kosong. Aku mengikuti semua kemauan tanteku yang genit ini.
“Nah anak manis.., sekarang kamu berdiri di sini dan diam dulu yah..” katanya. Aku berdiri dengan bersandar pada meja. Lalu tiba-tiba tante Juliet mengecup bibirku dengan lembut, aku benar-benar kaget, tapi rasanya benar-benar nikmat, bibir tante Juliet terasa lembut dan basah.

Aku hanya bisa diam saja sambil memejamkan mata, dan terus-terang saat itu otongku langsung naik. Kemudian, tiba-tiba tangan tante Juliet, bergerak menuju celana, kayaknya dia mau melepasnya.
“Tante, aduhh.. Sony mau diapain..?”, tanyaku gugup.
“Udah dong ahh.. kamu nurut aja ya.. percaya deh sama tante, pasti nanti kamu suka..”, bujuknya sambil kembali tersenyum nakal.
Lalu, tante Juliet mulai berlutut dihadapanku, dan mulai melepas resletingku, dan..
“Tante.. jangan tante.. jangan.. ohh..”, aku sungguh terasa panas-dingin, namun tante Juliet tidak memperdulikanku ia malah sibuk sendiri, nampaknya nafsu birahinya sudah tak bisa lagi dikendalikan. Setelah resletingnya terbuka, lalu tante Juliet melorotkannya, karena aku tidak pernah memakai CD(habis gerah dan agak gatel-gatel gimana gicu..), langsung saja otongku terjulai keluar.

“Wow.. besar juga punya kamu Son..”katanya sambil menatap otongku dengan tatapan buasnya. “Ohh.. tante jangann..”, ujarku lirih dengan gemetar, lututku terasa lemas. Tante Juliet yang tahu akan keadaanku lalu memegang pinggangku, dan menyuruhku naik, duduk di meja.
Lalu, tante Juliet memegang otongku yang sudah tegang itu. Dan.. ahh.. genggaman jari-jari lentik tante Juliet terasa sangat lembut di otongku.. Tiba-tiba dengan lembut tante Juliet, menjilat kepala otongku perlahan,
“Ahh.. taanntee.. ” jeritku lirih. Rasanya sulit dilukiskan, pokoknya bergetar seluruh tubuhku, saat lidah tante Juliet yang lembut menyapu permukaan kepala otongku. Lalu, tanpa sungkan-sungkan lagi tante Juliet langsung mengulum otongku, benar-benar gila rasanya..

“Ahh.. tantee.. aah.. ohh..” aku mengerang-ngerang, tak karuan. Tante Juliet terus mengulum-ngulum, sambil mengocok-ngocok, dan menyedot-nyedot otongku. Ruar biasa rasanya.. tak terbayangkan nikmatnya.. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan, yang akan keluar dari tubuhku. Aku makin menggila mengerang-ngerang, tante Juliet yang rupanya tahu waktunya telah tiba, langsung menyedot otongku kuat-kuat dan..
“Ahh.. taann.. aargghh..”, aku menjerit kencang, dan air maniku muncrat menyembur keluar, untuk pertama kali aku merasakan puncak kenikmatan yang tak terbayangkan bersama tanteku. Lalu, tubuhku terkulai lemas.. tergeletak di atas meja.. Namun air maniku yang tadi menyembur keluar di dalam mulut tante Juliet malah disedot, dihisap, dan ditelannya.

Nampaknya tante Juliet rakus sekali dengan air maniku, bahkan karena saking banyaknya ada air maniku yang meleleh keluar dari mulutnya, dan melumuri sekitar bibirnya, dan dengan menggunakan lidahnya tante Juliet menyapunya semua lalu menelannya.
“Wow.. punyamu enak sayang.. gimana rasanya.. enak khan.. “katanya sambil terus menjilati otongku.
“Aduhh.. Sony rasanya seperti orang mabuk.. tapi enak tante..”kataku.
Lalu, dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan ke sofa panjang di ruangan itu, dan aku langsung rebah disitu dan terlelap..
Sekitar 1/2 jam aku tertidur, ketika terbangun aku merasakan suatu perasaan yang senang. Aku melihat tante Juliet masih bekerja. Aku melihat dia melepas sepatunya.. ohh.. sungguh indah kakinya. Setelah itu nampaknya perkerjaannya sudah hampir selesai.

Setelah pekerjaan tante selesai, dan mematikan komputernya, ia menghampiriku.
“Son.. badan tante pegel nih, pijitin dong.. sayang..?”, pintanya.
“Iya tante..” jawabku.
Tante Juliet langsung terlungkup di sofa panjang yang satunya. Aku tertegun dengan bentuk tubuh tanteku, ohh begitu lansing dan bokongnya yang besar ohh.. serta kakinya yang sexy.. ohh.. “Ayo.., kok malah bengong sih..”, seru tante.
“Eee.. iya tante..”kataku pelan.
Lalu, kuusap pelan-pelan pundak tante, lalu perlahan kupijit-pijit, lalu turun pelan-pelan ke punggungnya. Ketika hampir mencapai ke dua buah pantatnya yang montok itu, aku agak ragu.
“Ayo Son, jangan berhenti dong..” serunya.
Dengan agak berdebar kutempelkan kedua telapak tanganku ke buah pantatnya yang padat berisi itu. Wah, sungguh empuk sekali lalu kuremas-remas perlahan,
“Hmm.. nah gitu dong.. pintar kamu Son..” kata tante Juliet sambil merasakan nikmat.
Setelah agak lama bermain di pantat tante Juliet, tanganku kembali merayap menyelusuri paha bagian belakang dan betisnya. Wah.. betis indah tante Juliet yang biasanya hanya bisa kulihat dan kubayangkan saja, sekarang kuusap-usap dan kuremas-remas dengan lembut, sungguh halus sekali rasanya, mulus dan lembut.. Kemudian tante Juliet bangun dari terlungkupnya, dan kini duduk bersandar di sofa.

“Son, tolong lepas sepatu tante..!” perintahnya.
Akupun melakukan perintahnya, melepas sepatunya dengan hati-hati. Setelah dilepas aku lihat ujung kakinyapun sangat halus dan mulus.
“Son.., kamu mau kan.. jilatin kaki tante..!”perintahnya.
Aku ragu tapi berikutnya tanpa ragu lagi aku ikuti perintahnya. Aku jilat telapak kaki tante Juliet yang mulus itu, lalu kujilatin pula tumitnya yang berwarna merah jambu itu. Baunya khas tapi nggak bau kayak kakiku.
“Ehmm.. kamu nakal ya..”, tante Juliet kegelian. Lalu,
“Terus naik ke atas dong sayang..” pintanya lirih.
Dari telapak kaki dan tumitnya, jilatanku naik ke atas. Kujilati betis mulus dan indah tante Juliet, benar-benar lembut sekali terasa di lidahku. Jilatanku terus naik ke atas, kusingkapkan setengah rok spannya ke atas, lalu kujilati paha tante Juliet, membuatnya terus menerus merintih kegelian tapi pasti nikmat dong.

“Son.., tolong bukain CD tante yah..”, lalu tante Juliet menyingkapkan seluruh roknya ke atas,
sehingga CD-nya yang berwarna putih nampak sangat jelas di depanku. Uhuii..!, ternyata di bagian tengah CD-nya telah basah, rupanya tante Juliet sudah sangat terangsang. Tanpa membuka roknya yang disingkapkan ke atas, dengan hati-hati kuturunkan CD tante Juliet. Wah.. luar biasa.. baru kali ini aku menyaksikan yang secara langsung memek seorang wanita. Memek tante Juliet sangat indah, bulu-bulunya sangat lebat, bentuk bukit memeknya cembung, di tengahnya terdapat garis bibir memek yang berwarna kemeraha-merahan, sangat merangsang birahi, apalagi di pinggirannya telah nampak basah oleh cairan birahinya.

“Ayo Son, jilatin memek tante ya.. cepet ya.. udah nggak tahan nih..” serunya.
Lalu, aku dekati memek tante Juliet, bau harum birahinya sangat keras tercium, mula-mula dengan perlahan aku mulai menjilati pinggiran memeknya.
“Ssshh.. aahh.. ya gitu Sonn.. aahh.. teruss.. ohh..”, tante Juliet mendesis-desis kegelian dan nikmat. Tante Juliet duduk sambil membuka kakinya lebar-lebar selonjoran di sofa, sementara aku menjilati memeknya yang udah banjir bandang. Aku terus menjilati pinggiran memek tante Juliet yang telah basah itu, rasanya asin-asin enak.. Setelah pinggiran memeknya, aku mulai berpindah menjilati tengahnya, kulihat di bibir memek tante Juliet yang masih rapat itu terdapat cairan basah, lalu aku jilat bagian tengah yang memanjang di memeknya, lalu..
“Ssstthh.. teruss.. ohh..”tante Juliet mendesis panjang.
Lalu kujilati bagian dalam memeknya, kukorek dengan lidah seluruh dinding bagian dalam memeknya untuk mendapatkan cairan memeknya, sehingga membuatnya menggelinjang-gelinjang,..
“Sonn.. aahh.. aahh..”tante Juliet terus mengerang-ngerang.

Lalu, dengan jariku aku renggangkan kedua bibir memek tante Juliet, lalu sedikit diangkat ke atas, maka tampaklah ujung clitnya yang mungil yang berwarna pink. Lalu dengan sekali jilatan panjang, aku jilat ***** itu, dan..
“Aaauuhh..” tante Juliet langsung menjerit, ia tersentak kaget.
“Sonn.. kamu pintar sayang.. hhmm..?”, tanyanya sambil tetap mengerang.
“Gimana tante.. rasanya..”, sahutku.
“Enak sayang.. ayo teruss..”, katanya sambil mengerang lagi.
Aku terus menjilati clitnya, kugosok dengan lidahku, membuatnya semakin gila, menjerit-jerit dan
menggelinjang-gelinjang, dan..
“Aaahh.. ahh.. aarghh.. eehhmm..”, erangnya lagi.
Lalu kusedot ***** tante Juliet dengan satu sedotan panjang, tiba-tiba tante Juliet langsung menjerit keras, “Aaakkhh.. tantee.. keluarr.. ohh..”, badannya mengejang, bergetar, kedua pahanya dirapatkannya ke kepalaku, dan tangannya meremas sofa itu dengan kuatnya.

Tante Juliet sedang merasakan puncak kenikmatan orgasme yang luar biasa, lendir hangat orgasmenya keluar dari dalam memeknya, dan aku sedot lagi memeknya kuat-kuat, membuat erangannya semakin panjang, “Aakhh.. Sonn.. eemmhh.. eemhh..”, dan akhirnya tante Juliet tergeletak lemas.
Setelah terbaring lemas di sofa beberapa saat, tante Juliet kembali bangkit, lalu menarikku ke sofa, dan menciumku, melumat bibirku, lalu lidahnya didesakannya masuk ke mulutku. Aku yang belum berpengalaman menerima saja. Lidah tante Juliet bermain di dalam mulutku, mengait-ngait lidahku, Wah.. rasanya.. geli, nikmat, dan basah..

Kemudian tante Juliet melepaskan lumatannya, lalu melepaskan kaosku, sehingga kini aku telanjang bulat. Kemudian tante Juliet mendorong badanku agar aku terlentang di sofa. Ia menatap otongku yang sudah mulai bangun kembali, digenggamnya batang otongku, yang langsung saja membuatnya makin mengeras, lalu di kocok-kocoknya. Mulanya perlahan, lama-kelaman makin cepat, Wah.. rasanya benar-benar aduhai.. Lalu, tante Juliet melumat batang dan kepala otongku, Waah.. rasanya semakin ruar biasa. Lalu, tante melepaskan lumatannya di otongku, lalu tante Juliet mulai melepaskan pakaian kerjanya. Aku bangkit dan terduduk di sofa. Melihat pemandangan itu, aku jadi deg-degan, namun kali ini sedikit bercampur nafsu. Dan akhirnya tante Juliet membuka seluruh pakaiannya, termasuk BH dan CD-nya, sehingga ia kini benar-benar telanjang bulat.

Wah, ruar biasa indahnya tubuh tante Juliet yang putih mulus, sangat montok dan seksi. Aku sekarang benar-benar super terangsang. “Gimana Son, kamu suka tubuh tante.. kan.. pasti kamu belum pernah melihat langsung cewek telanjang, iya kan..?”, tanyanya sambil menggodaku.
Aku hanya tersipu sambil menganggukan kepala dengan jempol tanganku kukenyot, tante Juliet tertawa cekikikan..
Lalu tante Juliet meraih tanganku, dan diletakan diatas buah dadanya yang montok. Wuih.. walau
aku deg-degan, tapi rasanya sangat empuk dan lembut sekali..
“Nah Son, kamu remas tetek tante yach..”, katanya.
Tanpa disuruh dua kali aku langsung meremasnya dengan perlahan.
“Hmm..”, tante Juliet mendesah.
Aku terus meremas-remas dengan nikmat, dan..
“Hmm.. stthh.. aahh.. teruss.. Sonn.. ohh..”, tante Juliet terus mendesah.
Namun rupanya, tegangan birahi tante Juliet sudah sangat super tinggi. Tiba-tiba aku langsung diterjangnya, dipeluk, serta dilumatnya bibirku, dengan penuh nafsu. Benar-benar baru kurasakan yang namanya cumbuan dan pelukan wanita, apalagi kita sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, jantung ini berdetak kencang. Tangan tante Juliet merayap mencari otongku, lalu digenggamnya batang otongku.

Lalu, sambil dalam posisi mendudukiku, tante Juliet mengarahkan ujung kepala otongku ke memeknya.
“Tante, Sony mau diapain, ja.. jangan dimasukin tante.. Sony.. masih perjaka..”, kataku terbata-bata.
“Nggak pa-pa sayang.. sekarang kamu nurut tante aja ya..”, kata tante Juliet sambil tersenyum menggodaku.
Lalu, tante Juliet langsung menekan memeknya ke kepala otongku, dan..
“Engghh..”, aku mengerang merasakan seretnya otongku masuk ke memek tante Juliet. “Stthh.. ohh..”, tante Juliet pun rupanya merasakan gesekan otongku dengan memeknya. Walaupun telah basah oleh lendir memeknya, namun memek tante Juliet memang masih sempit, jadi cuma sepertiga batang otongku yang baru berhasil masuk. Namun tante Juliet terus memaksakan batang otongku masuk, sampai aku sendiri takut kalau batang otongku lecet.
“Stthh.. aahh..”, akhirnya seluruh batang otongku masuk ke dalam memek tante Juliet. Sungguh luar biasa, nikmat sekali rasanya batang otongku di dalam memek tante Juliet, hangat, lembab, basah, dan serasa dihisap masuk ke dalam lubang sempit yang berulir.

Kemudian tante Juliet mulai menaik-nurunkan bokong dan pinggulnya, tante Juliet mengocok otongku di dalam memeknya.
“Aaahh.. enaakk.. oii.. aahh..”, aku benar-benar merasakan nikmatnya yang pertama kali dengan tanteku sendiri. Tante Juliet pun tak kalah menjerit-jeritnya, “Sstthh.. Aaahh.. Sonn.. aahh..”erangnya.
Tante Juliet tampaknya seperti sudah lupa daratan, dia terus menggoyangkan bokong dan pinggulnya keatas-kebawah, maju-mundur, kiri-kanan, meliuk-liukan pinggulnya, sambil mengerang-ngerang dan menjerit-jerit.
“Tann.. jangan keras-keras.. otong Sony sakit..”kataku.
“Sakit.. ya deh.. maafin tante sayang.. “katanya sambil terus bergoyang lembut.
Sampai setelah sekitar 15 menit, tiba-tiba tante Juliet menjerit kencang, badannya mengejang, ditekannya memeknya ke otongku kuat-kuat, sambil mencengkram erat ke sofa.
“Sonn.. Aaakkhh..”erangnya.
Aku merasakan memek tante Juliet dengan sangat kuat menjepit dan mengempot otongku, rasanya memang sangat ruar biasa nikmat, dari dalam memeknnya kurasakan keluar banyak sekali cairan. Karena merasakan jepitan dan empotan yang sangat dahsyat, tiba-tiba aku merasakan kembali sesuatu yang sangat tak tertahankan, dan akhirnya..
“Taann.. aakhh..”, aku menjerit dengan kerasnya.
Aku merasakan nikmatnya rasa yang luar biasa, yang tidak bisa kulukiskan, air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memek tante Juliet. Tante Juliet tersenyum nakal kepadaku, lalu memelukku, aku merasa sangat lemas.. Dan
akhirnya kami berdua tertidur sambil berpelukan telanjang di sofa itu.. Ketika aku bangun, tante Juliet tersenyum kepadaku, dan berkata..
“Sonn.., tenyata kamu hebat, tante nggak nyangka keponakan tante udah pandai..”katanya sambil mengecup bibirku. Aku hanya tersipu saja.
“Lain kali kamu mau kan, tante ajarin lagi..?”katanya.
“Iya tante.. Sony nurut tante aja..”, jawabku sambil menggangguk.
“Nah, gitu dong. Itu baru ponakan tante tersayang..”katanya lagi.

Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan seks. Bahkan pernah dengan alasan mengajakku jalan-jalan, tante Juliet pernah mengajakku ke apartement miliknya dan kami pun melalukannya lagi, pokoknya ruar biasa deh. Hal-hal seperti itu terus kami lakukan sampai akhirnya aku menikah dan pindah ke Inggris. Tepatnya di kota Liverpool karena aku menjadi pemain inti dari klub Liverpool. Begitulah kisah pengalaman seks-ku yang pertama kali dahulu, yang tak dapat kulupakan..


------------
sudh edit
khayalan jadi kenyataan




Cerita ini di mulai waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA di kota B. Usia saya sekarang 33 tahun, berarti kejadian ini terjadi 16 tahun yang lalu.

Panggil saya Kadek, ketika itu saya mempunyai kelompok belajar yang selalu rutin belajar di salah satu rumah teman kami, Bima. Saya, Bima, Hendra, Julian dan Rizki setiap akan ulangan selalu belajar berkelompok sambil menginap, karena anak kelas satu masuk sekolah selalu pada siang hari.

Teman saya, Bima, memang dari keluarga yang lebih dibanding teman-teman yang lain. Dia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara (2 pria dan 2 wanita), dari ayah seorang pejabat Depkeu.(drs.E) dan Ibu dosen fakultas sastra di universitas negeri di kota B, yang biasa kami panggil Tante N. Otomatis kami selalu tidur, makan dan mandi di sana, malah kalau keluarga drs.E berpesiar, kami suka diajak.

Bila Bima sedang di bawah (karena kamarnya memang di lantai 2), kami selalu membicarakan sangkakak no.3 yang bernama E. Hal-hal yang dibicarakan tidak lain adalah wajah yang good looking serta body yang aduhai disertai kulit putih mulus terawat. Tapi anehnya, saya kok lebih suka memperhatikan Tante N, yang diusia 42 tahun lebih menimbulkan hasrat serta fantasi-fantasi seksual yang membuat perasaan risih. Karena walau bagaimanapun Tante N adalah ibu kandung dari teman baikku. Jadi, saya hanya bisa berkhayal dan tidak berani cerita pada orang lain.

Karena keluarga drs.E adalah pencinta sport, maka setiap weekend selalu diisi dengan kegiatan berolahraga, terutama olah raga tennis. Karena saya cukup mahir bermain tennis, saya selalu diajak untuk bermain tennis. Karena saya dianggap paling jago, maka saya sering berpasangan dengan Tante N apabila bermain double. Selain badan Tante N yang proporsional dengan tinggi badan sekitar 165 cm, pakaian tennis Tante N memang sexy dengan rok pendek serta atasan model tank top, pelukan-pelukan serta sentuhan, apabila kami memenangkan game membuat hati saya berdebar-debar dan hasrat seksual terhadap Tante N semakin menjadi-jadi. Malah, setiap selesai bermain tennis saya bermasturbasi dengan membayangkan wajah Tante N serta bersetubuh seperti film BF yang biasa saya tonton.

Pada hari Sabtu di bulan Januari, karena saya tidak memiliki pacar, saya sering berkeliling kota dengan mobil ayah untuk menghabiskan malam panjang sendirian. Karena teman-teman belajar saya semua pada ngapel, termasuk Bima. “Ah Sial..” ketika baru saja lewat rumah keluarga drs.E, mobil terbatuk-batuk seperti habis BBM. Padahal hujan begitu lebat di luar dan SPBU terdekat kira-kira 2 km dari lokasi tempat mobil saya tepikan di bahu jalan. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjam telepon ke rumah Bima, untuk menelepon ayah atau siapa saja untuk membantu kesulitan gara-gara lalai terhadap yang namanya BBM.

Ketika saya tiba di rumah Bima, sambil hujan-hujanan suasana rumah tampak sepi, tidak ada mobil atau pun suara televisi yang menandakan adanya kehidupan. Dengan hati lemas saya pijit bel rumah 2 kali, “Tingtong.. tingtong..” Tidak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah. “Siapa..?” Hati saya berdebar, karena saya sangat mengenal suara itu. Kemudian saya menjawab, “Kadek, Tante.. maaf malam-malam Tante. Saya mau pinjam telepon, mobil saya mogok, Tante.” Terdengar gerendel pintu berbunyi, dan ketika pintu terbuka tampak sebuah sosok yang sangat saya kenal, sosok yang selalu hadir disetiap fantasi seksual saya. “Aduh Kadek kenapa? kasian malam-malam gini hujan-hujanan, ayo cepat ke kamar Bima, kalo udah selesai ke ruang makan yach! Tante buatin minuman hangat.” Sambil mengeringkan badan dan mengganti baju, masih terbayang siluet badan Tante N ketika tadi membuka pintu, yang membayang dari gaun tidur yang tipis.Dalam hati saya bertanya, “Kok sepi sekali, yang lain pada ke mana yach.”

Sambil menghirup coklat panas yang dihidangkan Tante N, akhirnya saya beranikan untuk bertanya.
“Tante, Oom, Bima dan yang lain pada ke mana? Keliatannya rumah kok sepi sekali.”
“Ini lho, adiknya Oom yang di J, sedang sakit, karena si Mbok juga lagi pulang, terpaksadech Tante jadi hansip dulu. Eh.. kamu jadi telepon nggak.”
“Eh iya Tante, kok jadi lupa nih.”
“Makanya, jangan suka ngelamun, dari tadi Tante perhatiin kamu kok bengong terus, ada apa sih?”
“Nggak ada apa-apa kok Tante!”

Saya langsung bergegas ke ruang keluarga, dan segera telepon ke rumah. Saya coba berulangkali tetap telepon tidak bisa aktif. Tiba-tiba terdengar suara Tante N, “Bisa nggak Dek? Kalo hujan begini biasanya jaringan telepon di sini memang suka ngadat.”
“Udah deh, kamu tidur sini aja, Tante juga jadi ada yang nemenin.”
“Iya Tante.”
Setelah itu, saya dan Tante N segera beranjak untuk meneruskan obrolan di ruang keluarga. Sebelum saya sempat duduk di sofa, Tante N berkata, “Dek, tolong dong Tante ajarin lagu Turkish March-nya Bethoven, Tante masih kagok tuh perpindahan jari-jarinya.”
“Kapan Tante?”
“Ya sekarang dong! Kapan lagi coba kamu punya waktu untuk ngajarin Tante.”

Kemudian kami menuju piano dan duduk sama-sama di kursi piano yang tidak terlalu lebar. Karenasaya mengajari perpindahan jari-jari tangan, otomatis saya selalu memegang jari tangan Tante N yang halus dengan kuku-kuku yang terawat dengan baik. Jantung saya terasa makin lama makin berdebar, apalagi setiap menarik nafas harum tubuh Tante N, sepertinya memenuhi rongga dada dan membuat adik kecilku mengeras secara perlahan.

“Kamu kok suaranya bergetar Dek, lagi nggak enak badan yah?”
“Nggak kok Tante, saya hanya..”
“Hanya apa hayo! nggak mau ya lama-lama temenin Tante, atau kamu udah ada janji malem mingguan.”
“Saya nggak punya pacar kok Tante, nggak kayak Bima ama yang lainnya.”
Sambil terus duduk berdekatan, tiba-tiba kepala Tante N bersandar pada bahuku dan bertanya, “Dek, Tante mau tanya apa Bima pernah cerita nggak kalo ayahnya punya istri lagi yang jauh lebih muda dari Tante, usianya sekitar 25 tahunan lah.”
“Masa sih Tante, keliatannya Tante sama Om mesra-mesra aja!”

Ketika tangan Tante N bergeser untuk bertumpu pada pahaku, secara tidak sengaja menyentuh adikku yang sejak tadi makin mengeras saja dan membuatku berteriak kecil, “Ah..” Sambil Tante N memandangku yang tertunduk malu dengan wajah sendu dan sensual, Tante N kembali bertanya, “Dek, kamu udah pernah berhubungan seksual belum?”
“Be..be..be..lum pernah Tante!”
“Mau nggak Tante ajarin? sebagai ganti kamu ngajarin piano sama Tante.”
Saya diam seribu bahasa, dan tiba-tiba bibir Tante N telah menyerbu bibirku secara bertubi-tubi sambil lidahnya terus berusaha menjilat dan meracau, “Ah..ah..ah..” Sambil terus mencium bibirku, tangan Tante N terus meremas telinga dan rambutku.

Tiba-tiba Tante N berkata, “Dek! kita pindah ke kamar yuk..”
Sambil bibir kami terus berpagutan, kami pindah ke kamar tidur dan langsung merebahkan badan dengan badanku ditindih Tante N. Selanjutnya Tante N segera melucuti baju tidurnya dan membentanglah suatu pemandangan indah, payudara yang proporsional (kira-kira 36B) denganputing warna merah maron dengan dibungkus kulit putih yang mulus tanpa cacat, dan yang lebih lagi adalah selangkangan dengan bulu-bulu hitam yang tidak begitu lebat dengan belahan merah muda yang mempesona. Dalam keadaan masih bengong, tiba-tiba tangan Tante N menarik tanganku danlangsung dibimbingnya ke arah payudaranya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, saya langsung meremas dengan halus sambil memilin puting susunya yang makin tegak dan mengeras.

“Ah.. ah.. ah.. terus Dek, buat Tante puas Dek..” Sambil terus meracau Tante N segera melucuti seluruh bajuku, dan mulai meraba-raba daerah selangkanganku serta mulai meremas adikku yang terasa nikmat sekali.
“Punya kamu besar juga ya Dek”
“Boleh nggak Tante jilatin biar makin besar?”
“Emangnya Tante mau gitu..?”
Lansung posisi Tante N berubah dan mulai turun perlahan dengan terus menjilati tubuhku, dari leher, dada, perut, dan tiba-tiba kurasakan cairan hangat mulai membasahi batang dan kepala adikku. Dan ketika saya memberanikan diri untuk melihat, rupanya kemaluanku sedang dijilati Tante N, kadang-kadang dikulumnya sambil kurasakan kepala kemaluanku menyentuh ujung kerongkongan Tante N.

Tiba-tiba Tante N merubah posisinya, sambil terus mengulum dan menjilat kemaluanku, Tante N memutar badan dengan selangkangannya menghadap wajahku. Terlihatlah suatu pemandangan indah, bulu hitam dengan belahan merah dan segumpal daging merah kecil yang berkilau. “Jilat Dek, jilat Dek,” pinta Tante N. Tanpa sungkan-sungkan dan membantah, langsung saja kuarahkan lidahku untuk menjelajah sambil terus menghirup harumnya kemaluan Tante N yang bagaikan candu itu.

Usai kegiatan saling menjilat, Tante N segera berbaring dan memintaku untuk bangkit sambil tangannya terus menggenggam adikku dan dituntunnya ke arah kemaluannya. “Masukkan Dek, masukkan Dek!” pinta Tante N, seperti anak kecil yang sedang merengek-rengek. Sesuai permintaanku, segera Tante N menekan tubuhku hingga adikku terarah dengan sempurna, dan terasalah suatu rasa yang sensasional ketika kulit kemaluanku bersentuhan dengan dinding kemaluan Tante N yang sudah basah dengan cairan hangatnya. “Ah.. ah.. ah..” suaraku dan suara Tante N memecah kesunyian dandinginnya malam. Sambil saya terus memompa Tante N tidak lupa saya meremas-remas seluruh tubuh Tante N yang memelukku dengan goyang pinggul yang seirama.

Tanpa berkata apa-apa, Tante N membantingku dan tiba-tiba Tante N telah menduduki tubuhku dan mulai bergerak turun naik memutar. Saya semakin takjub saja melihat kedua payudara Tante N seperti bergejolak untuk memuntahkan isinya. Sambil kami terus meracau dengan kata-kata yang menunjukkan kepuasan, Tante N memintaku untuk membalikkan badannya ke posisi semula sambil memintaku untuk memompa lebih cepat. Lalu kurasakan kemaluanku semakin berdenyut dan kemaluan Tante N juga kurasakan hal yang sama. Tidak lama kemudian tubuh kami mengejang, dan seperti di komando kami berteriak, “Ah.. ah.. ah..” sambil dari kemaluanku kurasakan keluar cairan nikmat dengan denyut kenikmatan dari dalam kemaluan Tante N dan kami saling berpelukan dengan erat sambil terus menikmati kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Usai adegan yang tak mungkin kuhapuskan dari ingatanku, Tante N bertanya, “Kamu suka Dek? Mau kan lain kali kita ulangi lagi.”
“Mau Tante.. kapan pun Tante mau, saya akan meluangkan waktu untuk Tante.”
Tidak lama kemudian kami tertidur sambil terus berpelukan hingga keesokan harinya.

Rekan-rekan pembaca, usai kejadian itu kami masih terus melakukan affair. Hal ini berakhir ketika saya menikah 4 tahun yang lalu. Beliau berkata, “Jangan hianati istrimu, karena Tante sudah merasakan bagaimana dihianati suami.”

Sampai sekarang kami masih berhubungan baik, bersilaturrahmi dan saling memberi spirit di saat kami merasa jatuh. Saya sangat menghormati hubungan ini, karena pada dasarnya saya sangat menghargai Tante N sebagai istri dan ibu yang baik.