Bangunan pencakar langit itu adalah apartemen kelas atas yang berharga lebih dari 1 milyar per unitnya. Dengan layanan kelas atas serta privasi yang tidak dapat disaingi oleh pengembang manapun unit-unit yang ada semuanya sudah dibeli oleh para bos besar untuk berbagai macam keperluan mulai dari bisnis sampai kesenangan pribadi mereka.
Pada bagian rooftop, terdapat 1 unit yang dilabeli sebagai apartemen VVIP, dengan akses lift pribadi dari basement, yang memungkinkan penghuni apartemen itu dapat masuk dan keluar tanpa diketahui siapapun. Halaman teras depannya adalah atap dari gedung pencakar langit, lengkap dengan kolam renang dan pemandangan yang mencakup seluruh kota.
Bagian dalam apartemen itu, didesain dengan sangat mewah, lengkap dengan berbagai alat elektronik dan hiburan kelas atas. Tidak lupa sistem keamanan yang canggih di setiap sudut ruangan. Kamar tidurnya yang berjumlah 4, semuanya mewah, melebihi kamar suite dari hotel berbintang lima sekalipun.
Dari salah satu kamar tidur itu terdengar sayup-sayup suara dengusan pria, disertai suara ranjang yang bergerak, sesekali terdengar suara erangan wanita setiap beberapa menit. Di atas ranjang beruukuran besar itu terlihat seoarang wanita, bertubuh mungil dengan rambut dipotong pendek, sedang ditindih oleh pria bertubuh gempal yang membuat wanita itu seperti tenggelam dalam tubuh pria tersebut.
Pria itu sedang bercinta, atau lebih tepatnya mungkin sedang menghajar wanita itu dengan penisnya, yang menghentak sekuat tenaga membuat seluruh ranjang yang mereka tiduri berguncang.
Wanita itu tampak sudah kewalahan menghadapi serangan pria itu, mukanya mulai memucat, setelah berkali-kali ia mengalami orgasme karena obat perangsang yang diberikan pria tadi ketika mereka memulai persetubuhan ini.
Tangan wanita itu berusaha mendorong dada pria itu berharap bisa memberinya sedikit waktu untuk bernafas, tapi tangan pria itu langsung menepisnya dan menahannya di atas kepala wanita itu.
“Pakhh, istirahat bentar.. hhkkk, aduuh.. hhhk… capek pakk hhhkk.”
Pria itu hanya menyeringai dan malah makin keras menghentakkan pinggulnya.
“Liat aku! Aku pengen liat mata kamu kalo pas kamu dapet sayang!” kata pria itu melihat wanita itu menutup mata serta menggigit bibirnya menahan linu yang menjalar di bagian bawah tubuhnya.
Setelah beberapa menit kemudian, wanita itu kembali mengerang, merasakan tubuhnya diserang nikmat orgasme yang tidak bisa ia tahan atau kendalikan lagi, selang beberapa manit, orgasme itu kembali lagi. Mata wanita itu melotot ketika kenikmatan itu begitu tajam membelah tubuhnya. Ia merasakan otot vaginanya begitu kaku mengalami orgasme berulang seperti itu.
Tetesan keringat dari muka pria yang menindih tubuhnya menetes ke muka wanita itu, ia melihat wajah pria itu menegang, dan segera setelah itu penis yang ada di dalam vaginanya seakan mengembang dan seiring dengan geraman keras pria itu, ia merasakan semburan sperma di dalam vaginanya. Ia memejamkan matanya merasakan cairan hangat memasuki daerah pribadinya.
Pria itu berguling ke samping wanita itu, penisnya masih terlihat tegang, hanya sedikit mengecil tidak sebesar ketika ia mulai menyetubuhi wanita itu. Melihat penis itu, wanita itu sadar, bahwa persetubuhan itu masih jauh dari selesai. Tapi apa daya, ia harus melayani pria itu, demi karirnya yang tidak bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Walapun sudah dibantu dengan begitu banyak gosip yang membuat namanya sering disbut-sebut di TV tapi ia masih belum merasa puas. Walaupun ia sudah behubungan dengan seoarang pemuda yang kaya, tapi ia tetap harus mencari sumber panghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang mewah karena ia sudah terbiasa dengan suami yang kaya, jadi sulit merubah kebiasaan hura-hura itu.
Pria besar itu meraih remote TV dan menekan tombolnya, memilih-milih channel, sampai akhirnya sampai ke sebuah berita infotainment. Ia terkekeh melihat berita yang ditayangkan, sambil melirik wanita mungil itu. Ia melihat wajah wanita itu masam.
“Dasar lonte, gak bisa liat orang seneng. Bisanya gangguin barang orang aja nih lonte.” kata wanita itu sambil mencibir.
Ia menggeliat dan memeluk tubuh pria itu dari samping.
“Pak, bapak bisa tolong aku gak pak?” ia berkata dengan gaya manja, sementara jarinya mengusapi puting pria itu. “Aku pengen kerjain cewek itu pak, bikin dia nyesel setengah mati gangguin manean aku pak.”
“Kerjain gimana?”
“Ya dikerjain pak, diabisin juga gak pa pa, kan bapak ahli kalo soal gituan pak.” lidah wanita itu sekarang menjilati puting pria itu berharap keinginannya dikabulkan.
“Ya bisa sih, tapi aku dapet apaan?” kata pria itu. “Kalo cuman dapet dia doang aku males, yang lebih cantik juga banyak.”
“Apa aja yang bapak mau dari aku akan aku kasih pak. Beneran pak, asal bapak beresin tuh anak.” jawab wanita itu. “Bisa ya pak? Mau ya pak?”
Pria itu melirik wanita itu, sambil tersenyum ia menjulurkan tangannya, kemudian menusuk lubang anus wanita itu.
“Aku mau ini. Gimana?”
Wanita itu mengigit bibirnya, selama ini ia selalu menolak melakukan anal sex, selain belum pernah, ia juga ngeri dengan ukuran dan daya tahan pria itu. Tapi dendamnya begitu besar.
“Aku siap layani bapak.”
Ia mengangkat tubuhnya sambil membasahi jari-jarinya dengan mulut dia membelakangi pria itu yang sudah berlutut di atas ranjang. Kemudian, sambil membungkukkan badannya, wanita itu mengolesi lubang anusnya, dengan ludah dan sisa sperma yang ada di vaginanya.
Tubuh wanita itu bergetar ketika merasakan kepala penis pria itu menempel dan mulai mendorong masuk.
Dari balik pintu kamar itu dapat terdengar jelas, erangan diikuti dengan jerit kesakitan wanita itu, ketika mereka mulai melakukan anal sex itu.
♀♂
Tuan 0 sedang melihat iklan di TV yang ada di ruangan pribadinya di pulau itu ketika ponselnya berbunyi. Pada layarnya tertera “7-Gafar”
“Selamat malam Tuan Gafar, ada yang bisa kami bantu?”
Tuan 0, dengan seksama mendengarkan perkataan dari Gafar, sambil sesekali melihat layar komputernya yang menampilkan email yang dikirimkan Gafar sesaat sebelum menghubungi Tuan 0.
“Tentu saja bisa Tuan, tidak ada masalah, akan segera kami siapkan. Maksimal dalam waktu seminggu apa yang Anda ingin sudah ready.”
Tuan 0 tersenyum ketika ia mendengar perkataan dari Gafar.
“Tidak ada masalah Tuan, tapi ketiga pengawal saya tentu saja harus tetap ikut untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Dan mengenai keinginan Tuan untuk share ke orang lain, itu juga merupakan hak Tuan pribadi, selama Tuan bisa menjamin keamanannya, kami tidak ada masalah.”
Tuan 0 tersenyum melihat foto yang dikirim melalui email oleh Gafar tadi, ia tertarik juga dengan korban Gafar, dan pikirannya sudah mulai melayang membayangkan hal-hal mesum yang bisa ia lakukan pada gadis yang ada di foto itu.
“Baik Tuan, begitu dia ready, kami akan kontak dan kami kirimkan ke tempat Tuan. Terima kasih.”
Sambil tersenyum puas, Tuan 0 menekan tombol di teleponnya serta kembali melihat foto gadis itu.
Pintu ruangan Tuan 0 terbuka, dan masuklah Kamal beserta Kahar dan Karjo. Mereka bertiga melirik foto gadis yang sekarang terpampang di layar besar yang ada di ruangan itu. Mereka menunjukan rasa tertarik yang sama dengan Tuan mereka.
“Itu target kita untuk Tuan 7, nama, alamat dan tempat dimana dia hang out ada semua di dokumen yang sedang aku print itu. Setelah kalian ambil dia, kalian bawa ke sini dulu, setelah itu baru urusan kalian. Maksimal minggu depan dia harus sudah bisa kita deliver ke Tuan 7.”
“Siap Bos!”
Mereka keluar dari ruangan itu sambil membawa satu set dokumen, dan pada sampulnya bertuliskan : Tuan 7 – Asha Shara
♀♂
Nia Ramadhani mengerang ketika merasakan sebuah penis menembus vaginanya. Ia bertumpu lutut dan bahunya berusaha agar tidak jatuh tersungkur ke depan, ketika pria di belakangnya menghentak lagi, memaksakan seluruh penis itu masuk ke dalam vaginanya. Nia mendengar pria itu mengerang nikmat merasakan otot-otot vaginanya yang seakan meremas penis pria itu. Nia memejamkan matanya seiring pria itu mulai menyetubuhi dirinya sambil mendengus penuh kemenangan.
Pria itu adalah pria ketiga yang Nia layani, ia sudah tidak tahu lagi berapa jam ia ada di ruangan itu, yang jelas kemarin malam ada sebuah SMS datang yang isinya perintah agar ia menunggu di sebuah tempat pada pukul 12 siang esok harinya. Ia harus mengarang berpuluh alasan pada manajernya, pada suaminya, agar ia bisa pergi sendiri dan menunggu di tempat itu.
Hampir tiga bulan berlalu semenjak Nia pertama kali datang ke pulau itu, dan mengetahui bahwa ayah mertuanya yang ada dibalik perkosaan pada dirinya, dan menjadikan dirinya budak para pria yang ada di pulau itu. Ayah mertuanya juga tidak pernah bosan memperingatkan agar Nia tidak sekalipun berpikir untuk menceritakan pada siapapun atas apa yang terjadi pada dirinya, atau seluruh keluarganya akan mengalami hal yang tidak pernah Nia bayangkan sebelumnya.
Ini adalah pertama kali Nia kembali ke pulau itu setelah pernikahan dirinya dulu. Setelah sampai di pulau tadi, ia ditelanjangi, tangannya diborgol kebelakang dan dibawa masuk ke sebuah ruangan dengan pintu jeruji. Tak berapa lama, seorang pria datang, menarik tubuhnya dan menyetubuhinya, setelah pria itu selesai, pria yang lain datang dan kembali memperkosanya. Dan sekarang Nia hanya bisa menangis merasakan pria dibelakangnya menampari pantatnya supaya ia bisa mendengar Nia merintih. Nia sudah tidak mampu lagi menjerit keras ketika pria itu meremas buah dadanya yang sudah memerah.
Beberapa menit berlalu, ketika sayup-sayup Nia mendengar langkah kaki. Dengan kepala tersungkur ke lantai, Nia hanya bisa melihat empat pasang kaki berdiri di depan pintu yang terbuka. Tiga diantaranya mengenakan sepatu, sedangkan satu pasang bertelanjang kaki.
“Wah, wah lagi enjoy nih kayaknya!” Nia mendengar suara dari salah satu orang yang berdiri di depannya.
“Hggghhh, heeekhh, wah gila banget nih cewek, gak abis-abis enaknya. Heekkhh, heekkkh…” pria di belakang Nia makin memacu goyangannya, membuat Nia mengerang antara nikmat dan nyeri.
“Barang baru tuh? Punya siapa dia?”
“Punya Boss no 7. Barusan dipake ama Big Boss, besok mau didelivery.”
“Wah wah, mantep juga selera dia ya, kirain sukanya ama STW doang. Ha ha ha!”
Keempat pria dalam ruangan itu tertawa terbahak-bahak.
“Gue test drive dulu dong! Boleh gak?!” sambil terus menghujamkan penisnya ke vagina Nia, pria itu berbicara kepada tiga pria yang ada di depan pintu tadi.
“Wah, gimana ya, kata Big Boss langsung masuk kamer Bos..”
“Iya bos, bisa kena marah kita kalo ketauan.”
“Halah, gak bakal gue bilangin! Big Boss kemana?”
“Lagi ke apartemennya Bos! Besok baru balik.”
“Nah kan.. Udah kasih aja ke gue! Gue pake disini aja, mumpung gue udah mau keluar nih.. Hhhhk, hhhkkk!!” gerakan pria itu makin cepat membuat tubuh Nia terdorong-dorong hingga bahunya memerah.
Dan akhirnya pria itu mengerang keras sambil memegangi pinggul Nia dan menahannya sementara Nia merasakan sperma hangat menyembur ke dalam vaginanya, membuat Nia sendiri mengigit bibirnya karena gelombang orgasme pun datang berbarengan. Ia merintih kehabisan tenaga setelah berkali-kali orgasme melayani tiga pria berurutan.
Pria itu kemudian menarik penisnya, dan berdiri menunggu.
Nia dengan susah payah bangkit, dan membuka mulutnya menelan penis pria itu serta mulai membersihkannya dari sisa cairan sperma serta orgasmenya sendiri. Setelah selesai, ia menundukkan kepalanya.
“Terima kasih Tuan.”
“Gimana? Dikasih kagak nih?” tanya pria itu. “Udah daripada ntar kalian bengong, kalian pake dia aja, sementar gue pake barang baru itu! Oke?!”
Nia menggigit bibirnya lagi, tubuhnya bergetar ketakutan membayangkan harus melayani tiga pria lagi.
“Wah, boleh deh bos! Tapi antara kita aja ya! Jangan sampe ada yang tau, gak enak ama yang laen.”
“Nah gitu dong!”
Pria itu kemudian mengambil jas yang tergeletak di lantai, mengeluarkan sebuah buku, lalu menuliskan sesuatu dan merobeknya.
“Nih buat kalian! Bagi rata ya! Gak usah bilang Big Bos, gak enak gue!” pria itu memberikan selembar cek kepada salah seorang dari mereka.
“Wah bos! Makasih banyak bos! Makasih bos!”
“Sip deh! Ya udah kita mulai aja pestanya! Kalian pake aja nih!” pria itu mendorong kepala Nia hingga tersungkur di hadapan kaki tiga pria tadi.
Nia mengangkat kepalanya, dan melihat wajah Kamal, Kahar serta Karjo menyeringai menatapnya.
“Jangan! Istirahat dulu! Saya capek sekali! Saya mohon!” Nia susah payah bangkit sambil menarik tubuhnya menjauh, tapi ia kalah cepat, Kahar menangkap kakinya dan menariknya. Dalam sekejap ketiga pria tadi sudah membuka semua pakaian mereka dan menerkam Nia.
“Jangan! Ampun! Berhenti dulu! Ampun!” Nia menjerit-jerit.
Dalam jeritannya, Nia juga mendengar jeritan lain, dari sudut ruangan lain. Ia mencari asal jeritan itu dan melihat seorang gadis, dengan tangan terikat ke belakang juga, telanjang bulat, sedang ditindih oleh pria yang ia layani tadi. Penis pria itu sudah terlihat tegang kembali ketika dipaksa dimasukan ke dalam mulut gadis itu.
Nia merasakan nyeri di vaginanya ketika penis Kahar berhasil masuk, sementara Karjo dan Kamal mengigiti puting susunya. Ia mengerang, pandangannya buram karena air mata yang kembali mengalir. Ia melihat wajah gadis itu, sepertinya ia pernah melihatnya. Tubuhnya gadis itu lebih berisi dari tubuh Nia, dengan buah dada yang padat serta lebih besar dari Nia.
Tapi pandangan Nia tiba-tiba tertutup oleh selangkangan Karjo yang memasukan penis kedalam mulutnya